Good words are worth much, and cost little.

George Herbert

Ada yang lebih penting..

Huah.. sudah lama sekali rasanya tidak menulis di blog ini. Saatnya untuk curhat kembali. Hehehe..

Sesuai judul, “Ada yang lebih penting..” Hmm.. Kali ini saya berbicara (menulis?) sedikit tentang PRIORITAS. Pemikiran “mana yang lebih penting”, “mana yang lebih bernilai”, dan pemikiran lainnya membawa kita secara sadar dan tidak sadar untuk menentukan prioritas kita.

Manusia memang terkadang tidak bisa menentukan prioritasnya, karena terlanjur hanyut dengan sifat “rakus”nya. Semuanya mau diambil. Semuanya mau berjalan dengan mulus dan lancar. Kalo ditanya “mau istri yang cantik tapi matre, atau yang biasa aja tapi sederhana”, pasti jawaban pertama adalah “cantik tapi sederhana”.

Tapi, terkadang dalam hidup (setidaknya dalam hidup saya selama 23 tahun belakangan), manusia dihadapkan pada pilihan2 akan jalan hidupnya, yang memaksa manusia tersebut untuk menentukan prioritasnya. Pilihan-pilihan tersebut sama pentingnya. Yang satu tidak lebih jelek ketimbang yang satunya. Dua-dua nya bagus, tapi ngga bisa diambil dua-duanya.

Baru-baru ini saya berhadapan dengan situasi tersebut. Saya bekerja di perusahaan dan bidang pekerjaan yang saya impikan. Dengan lingkungan kerja yang baik (setidaknya hingga saat ini). Kemudian, muncullah pilihan baru ini. Pekerjaan impian orangtua saya. Pekerjaan impian banyak orang juga. Dengan salary yang dimimpi2kan orang2. Dengan prestise sebegitu tinggi. Tapi satu masalahnya : itu bukan mimpi saya, tapi mimpi orang tua saya.

Saya berada di tahap akhir seleksi. Pertanyaan tersulit adalah, bersediakah saya ditempatkan di lokasi cukup jauh dari peradaban, di seluruh Indonesia, dengan jangka waktu yang tidak bisa ditentukan? Good salary, bahkan great salary mungkin. Tapi bisakah uang tersebut membayar pekerjaan impian yang saya miliki saat ini? Bisakah uang tersebut membayar waktu yang saya tinggalkan di sini? Bisakah uang tersebut membayar momen2 bersama keluarga yang mungkin tidak terulang 2 kali? Bisakah uang tersebut membayar momen kebersamaan saya dan “dia”? Bisakah uang tersebut membayar kegiatan yg tidak bisa saya lakukan bersama teman2 di kota ini?

Atau lebih tepatnya : PANTASKAH semua itu dibayar dengan uang? Dengan gaji super? Dengan tunjangan melimpah?

Untuk saya, jawabannya TIDAK. Meskipun harus mengecewakan ibu saya. Meskipun harus membuat ayah saya mogok ngomong. Meskipun harus membuat teman2 heran dan bertanya2, kenapa harus membuang kesempatan. Meskipun ada orang yang bilang saya “bodoh” karena jawaban saya itu.

Beberapa kali sang pewawancara menanyakan hal yang sama, dan berkali-kali pula saya jawab dengan jawaban yang sama. Dan hasilnya, saya tidak lolos ke medical check up. Hahaha.. ^_^

Saya juga masih heran, kenapa saya masih bisa tertawa ya? Secara jujur, prestise dan gaji yang ditawarkan, sungguh menggiurkan. Meskipun mungkin bukan pekerjaan yang saya inginkan, tapi mungkin itu masih bisa terbayar dengan gaji besar. Saya kecewa ketika harus menjawab “tidak”, tapi saya yakin, ADA YANG LEBIH PENTING ketimbang UANG di dunia ini. Dan yang membuat saya masih dapat tertawa, mungkin karena saya amat yakin dengan keyakinan tersebut, dan yakin tidak akan dikecewakan.

Uang memang penting, tapi tidak lebih penting ketimbang momen2 yang saya sebutkan tadi. Prioritas saya berbeda dengan orang lain. Apa yang lebih penting menurut saya, mungkin kurang penting bagi orang lain.

Dan kenapa harus berubah prioritas, jika saya yakin dengan prioritas saya? Meskipun di penghujung tulisan ini, muncul lirik Mr Big : “Or am I a fool, goin’ where the windblows?

Filed under: My Life, My Mind , , , , , , , , , ,

“Daripada zinah…”

Kawin siri, poligami, dan perbuatan-perbuatan sejenisnya, sangat sering menggunakan alasan “daripada zinah”. Jadi, daripada zinah, mendingan kawin siri. Jadi ngga zinah. Daripada selingkuh terus-terusan di belakang istri resmi, mendingan poligami aja, jadinya tidak zinah. Daripada pacaran lama-lama, mendingan meski baru kenal sebulan langsung kawin aja, daripada zinah.

Shit.

Alasan apaan sih itu?! Pembenaran doang. Bahkan orang sekelas Ustadz Yusuf Mansyur-pun punya pandangan yang sama. 

Apakah perkawinan itu hanya identik dengan seks? Apakah pacaran artinya berpotensi besar melakukan perzinahan? Apakah hawa nafsu jauh lebih penting daripada kecocokan, pertemanan, komunikasi, dan hal-hal lain di dalam membangun hubungan antara laki-laki dan perempuan?

Padahal perkawinan, menurut saya, adalah perbuatan sekali seumur hidup. Tidak ada alasan “sudah tidak ada kecocokan” yang cukup kuat untuk menjadi alasan berakhirnya sebuah perkawinan. Oleh karena itu juga, maka alasan “daripada zinah” juga tidak dapat diterima. Karena perkawinan bukan hanya tentang itu.

Pihak-pihak yang memberikan alasan tersebut, tanpa mengurangi rasa hormat saya, adalah pihak yang justru terlihat lebih mementingkan seks ketimbang hal lainnya. Sangat jelas terlihat bahwa alasan “daripada zinah” dikeluarkan karena ada kecenderungan yang besar untuk melakukan zinah. Hal itu dapat terjadi karena orientasi pihak-pihak tersebut adalah hal-hal yang berhubungan dengan zinah.

Jadi, daripada zinah…..?

Filed under: My Interest, My Life, My Mind , , , , , , , , ,

Hidup setelah mati, adakah?

Kamis kemarin, adalah perayaan Kenaikan Isa Almasih atau Kenaikan Yesus Kristus, yaitu 40 hari setelah bangkitnya Yesus dari kematian. Ibadah diadakan seperti layaknya hari Minggu, dan kali ini saya tertarik dengan khotbah sang Pendeta yang saya hadiri.

Beliau menyinggung mengenai kehidupan setelah mati, yaitu bahwa setelah meninggal, maka kita akan hidup kembali, tapi bukan dengan tubuh fisik, melainkan dengan tubuh kemuliaan. Setelah mati, kita juga akan masuk ke dalam Firdaus terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam sorga yang sebenarnya, yaitu ketika Yesus datang untuk kedua-kalinya dan membawa semua orang percaya ke sorga, termasuk orang yang sudah mati sebelumnya, ataupun yang masih hidup.

Saya tidak meragukan atau mempertanyakan kebenaran dan keabsahan dari statement ataupun ajaran ini, karena saya tidak dalam kapasitas menjawab, ataupun memiliki pengetahuan yang memadai untuk membantahnya. Yang jadi pertanyaan saya (dan mungkin jutaan orang lainnya) adalah, apakah hidup setelah mati itu ada? Apakah ada sorga?

Ada pernyataan yang bilang : “membuktikan Tuhan itu ada memang susah, namun membuktikan Tuhan itu tidak ada, justru jauh lebih susah.” Saya setuju. Tapi bagaimana dengan pembuktian bahwa sorga itu ada? Apakah sulit membuktikan bahwa sorga itu tidak ada?

Sang Pendeta menjawab pertanyaan saya tanpa saya perlu menanyakan. Ia menyebutkan, bahwa jika tidak ada tujuan setelah hidup, maka silahkan hiduplah sesukanya. Toh mati bukanlah kerugian. Dan buat apa hidup lama di dunia, kalau akhirnya akan hilang begitu saja? Berbuatlah semaunya, tanpa ada aturan, tanpa ada batasan. Toh tidak ada yang melarang dan membatasi.

Tapi lantas kenapa manusia semua hidup dalam aturan? Lantas kenapa manusia menciptakan agama? Untuk apa semuanya? Kenapa tidak dibiarkan saja? Mungkin karena ada sorga dan neraka. Atau ada kehidupan setelah kematian. Maka kita, sebagai manusia, mulai melakukan berbagai tindakan untuk kehidupan kita selanjutnya.

Ada yang percaya kepada sang Juruslamat, karena hanya Dia-lah jalan menuju sorga. Ada yang berbuat baik, supaya amal dan ibadahnya menjadi alat untuk membawa dia ke sorga. Ada yang berbuat baik, agar di kehidupan selanjutnya dapat ber-reinkarnasi menjadi makhluk sempurna. Dan berbagai perbuatan lainnya. Kenapa? Karena kita takut pada neraka? Karena kita mendambakan sorga? Karena KITA PERCAYA ADA KEHIDUPAN SETELAH MATI?

Filed under: My Life, My Mind , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Caleg Poligami

Membaca berita mengenai pengumuman nama-nama caleg (calon legislatif) yang melakukan poligami ini, sebenarnya saya setuju-setuju saja. Hanya sangat disayangkan, komentar-komentar di berita ini sungguh tidak mengenakkan. Lagi-lagi sistem moderasi komentar di detik.com tidak berjalan dengan semestinya. Sungguh disayangkan.

mattaPengumuman nama caleg yang melakukan poligami, awalnya diprakarsai oleh Solidaritas Perempuan Indonesia, karena menganggap bahwa caleg yang melakukan poligami berarti tidak memiliki perspektif perempuan. Masalahnya sekarang, isu ini dikaitkan dengan isu politik, yaitu dalam rangka menjatuhkan caleg yang telah melakukan poligami, sebut saja Anis Matta, sekjen DPP PKS. Beliau memiliki 2 istri, di mana istri keduanya berkebangsaan asing (CMIIW).

Padahal, poligami menurut agama Islam, adalah sah. Menurut beberapa komentar di berita tadi, poligami adalah FASILITAS dari Tuhan, jadi boleh digunakan, boleh juga tidak. Tidak ada yang mewajibkan poligami, dan di sisi lain, tidak ada pula yang melarang.

Masalahnya di sini adalah, bahwa pemilih (sebut saja saya), menginginkan informasi yang sejelas-jelasnya mengenai calon-calon yang akan saya pilih. Tentunya saya tidak mau memilih kucing di dalam karung, karena kucing itulah yang akan mewakili saya 5 tahun ke depan. Jika saya tidak tahu kredibilitasnya, tidak tahu kapasistasnya, dan tidak tahu latar belakangnya, maka saya memilih untuk tidak memilih mereka.

Begitu pula dengan hal ini. Pengumuman ini, menurut saya adalah hal yang perlu. Para caleg seharusnya tidak perlu takut, karena keputusan tetap pada sang pemilih, apakah kelakuan poligami sang caleg mengubah pandangan sang pemilih kepada caleg tersebut. Inilah yang namanya demokrasi, bukan begitu? Biarkan pemilih melakukan pilihan, sementara yang mencalonkan diri untuk dipilih, silahkan tunjukkan kelebihan anda!

 

Filed under: My Interest, My Life, My Mind

Earth Hour 2009

Membaca berita ini di kompas.com setelah sebelumnya saya juga pernah mendengar tentang berita ini di running text Metro TV, akhirnya saya mengerti juga apa makna dari kegiatan ini.

earth-hour Kota Jakarta tahun ini berpartisipasi dalam sebuah kegiatan yang bernama Earth Hour, yaitu sebuah kegiatan untuk mematikan peralatan elektronik kita selama satu jam, dalam rangka penghematan energi. (keterangan lebih jelas, di sini). Kita patut bangga, karena warga kota Jakarta menjadi bagian dari sebuah kampanye besar yang melibatkan 1000 kota di seluruh dunia, dan menjadi satu dari sekian ratus juta orang yang ikut serta dalam kampanye ini.

Penghematan energi di Jakarta selama satu jam, ternyata memiliki dampak yang sangat besar (bisa dilihat di sini). Selain penghematan biaya listrik sebesar Rp200 juta, ternyata tenaga yang tersimpan karena warga Jakarta mematikan peralatan listriknya selama satu jam mampu menghidupi 900 desa di Indonesia yang belum mendapatkan listrik yang layak.

Kegiatan ini akan dilaksanakan hari Sabtu, tgl 29 Maret 2009, mulai pukul 20.30 s/d 21/30. FYI, kegiatan tahunan ini memang dilaksanakan setiap tanggal 29 Maret (CMIIW). Dimulai sejak tahun 2007, di tahun ketiganya sekarang, semakin banyak negara dan ikon-ikon dunia yang ikut berpartisipasi dalam kampanye Earth Hour ini, antara lain Burj Dubai, Canadian National Tower Toronto, Moscow’s Federation Tower, Quirinale Roma, Kediaman Resmi Presiden Italia Giorgio Napolitano, Auqland Sky Tower Australia, Opera House Sidney, dan Table Mountain di Cape Town. Di Jakarta sendiri, beberapa titik akan menjadi pusat pemadaman listrik, yaitu Monumen Nasional berikut air mancurnya, Bundaran Hotel Indonesia berikut air mancurnya, Patung Pemuda, dan air mancur Arjuna Wiwaha/patung kuda (source: here!).

 

Filed under: My Life, My Mind

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Flickr Photos

Light through the windows.

Asia Africa Street, Jakarta.

More capitalism.

More Photos