Good words are worth much, and cost little.

George Herbert

09/09/09 09:09:09

090909

Yeahhhhh!! ^_________^

Filed under: My Interest , , , , , , , , , ,

Ada yang lebih penting..

Huah.. sudah lama sekali rasanya tidak menulis di blog ini. Saatnya untuk curhat kembali. Hehehe..

Sesuai judul, “Ada yang lebih penting..” Hmm.. Kali ini saya berbicara (menulis?) sedikit tentang PRIORITAS. Pemikiran “mana yang lebih penting”, “mana yang lebih bernilai”, dan pemikiran lainnya membawa kita secara sadar dan tidak sadar untuk menentukan prioritas kita.

Manusia memang terkadang tidak bisa menentukan prioritasnya, karena terlanjur hanyut dengan sifat “rakus”nya. Semuanya mau diambil. Semuanya mau berjalan dengan mulus dan lancar. Kalo ditanya “mau istri yang cantik tapi matre, atau yang biasa aja tapi sederhana”, pasti jawaban pertama adalah “cantik tapi sederhana”.

Tapi, terkadang dalam hidup (setidaknya dalam hidup saya selama 23 tahun belakangan), manusia dihadapkan pada pilihan2 akan jalan hidupnya, yang memaksa manusia tersebut untuk menentukan prioritasnya. Pilihan-pilihan tersebut sama pentingnya. Yang satu tidak lebih jelek ketimbang yang satunya. Dua-dua nya bagus, tapi ngga bisa diambil dua-duanya.

Baru-baru ini saya berhadapan dengan situasi tersebut. Saya bekerja di perusahaan dan bidang pekerjaan yang saya impikan. Dengan lingkungan kerja yang baik (setidaknya hingga saat ini). Kemudian, muncullah pilihan baru ini. Pekerjaan impian orangtua saya. Pekerjaan impian banyak orang juga. Dengan salary yang dimimpi2kan orang2. Dengan prestise sebegitu tinggi. Tapi satu masalahnya : itu bukan mimpi saya, tapi mimpi orang tua saya.

Saya berada di tahap akhir seleksi. Pertanyaan tersulit adalah, bersediakah saya ditempatkan di lokasi cukup jauh dari peradaban, di seluruh Indonesia, dengan jangka waktu yang tidak bisa ditentukan? Good salary, bahkan great salary mungkin. Tapi bisakah uang tersebut membayar pekerjaan impian yang saya miliki saat ini? Bisakah uang tersebut membayar waktu yang saya tinggalkan di sini? Bisakah uang tersebut membayar momen2 bersama keluarga yang mungkin tidak terulang 2 kali? Bisakah uang tersebut membayar momen kebersamaan saya dan “dia”? Bisakah uang tersebut membayar kegiatan yg tidak bisa saya lakukan bersama teman2 di kota ini?

Atau lebih tepatnya : PANTASKAH semua itu dibayar dengan uang? Dengan gaji super? Dengan tunjangan melimpah?

Untuk saya, jawabannya TIDAK. Meskipun harus mengecewakan ibu saya. Meskipun harus membuat ayah saya mogok ngomong. Meskipun harus membuat teman2 heran dan bertanya2, kenapa harus membuang kesempatan. Meskipun ada orang yang bilang saya “bodoh” karena jawaban saya itu.

Beberapa kali sang pewawancara menanyakan hal yang sama, dan berkali-kali pula saya jawab dengan jawaban yang sama. Dan hasilnya, saya tidak lolos ke medical check up. Hahaha.. ^_^

Saya juga masih heran, kenapa saya masih bisa tertawa ya? Secara jujur, prestise dan gaji yang ditawarkan, sungguh menggiurkan. Meskipun mungkin bukan pekerjaan yang saya inginkan, tapi mungkin itu masih bisa terbayar dengan gaji besar. Saya kecewa ketika harus menjawab “tidak”, tapi saya yakin, ADA YANG LEBIH PENTING ketimbang UANG di dunia ini. Dan yang membuat saya masih dapat tertawa, mungkin karena saya amat yakin dengan keyakinan tersebut, dan yakin tidak akan dikecewakan.

Uang memang penting, tapi tidak lebih penting ketimbang momen2 yang saya sebutkan tadi. Prioritas saya berbeda dengan orang lain. Apa yang lebih penting menurut saya, mungkin kurang penting bagi orang lain.

Dan kenapa harus berubah prioritas, jika saya yakin dengan prioritas saya? Meskipun di penghujung tulisan ini, muncul lirik Mr Big : “Or am I a fool, goin’ where the windblows?

Filed under: My Life, My Mind , , , , , , , , , ,

“Daripada zinah…”

Kawin siri, poligami, dan perbuatan-perbuatan sejenisnya, sangat sering menggunakan alasan “daripada zinah”. Jadi, daripada zinah, mendingan kawin siri. Jadi ngga zinah. Daripada selingkuh terus-terusan di belakang istri resmi, mendingan poligami aja, jadinya tidak zinah. Daripada pacaran lama-lama, mendingan meski baru kenal sebulan langsung kawin aja, daripada zinah.

Shit.

Alasan apaan sih itu?! Pembenaran doang. Bahkan orang sekelas Ustadz Yusuf Mansyur-pun punya pandangan yang sama. 

Apakah perkawinan itu hanya identik dengan seks? Apakah pacaran artinya berpotensi besar melakukan perzinahan? Apakah hawa nafsu jauh lebih penting daripada kecocokan, pertemanan, komunikasi, dan hal-hal lain di dalam membangun hubungan antara laki-laki dan perempuan?

Padahal perkawinan, menurut saya, adalah perbuatan sekali seumur hidup. Tidak ada alasan “sudah tidak ada kecocokan” yang cukup kuat untuk menjadi alasan berakhirnya sebuah perkawinan. Oleh karena itu juga, maka alasan “daripada zinah” juga tidak dapat diterima. Karena perkawinan bukan hanya tentang itu.

Pihak-pihak yang memberikan alasan tersebut, tanpa mengurangi rasa hormat saya, adalah pihak yang justru terlihat lebih mementingkan seks ketimbang hal lainnya. Sangat jelas terlihat bahwa alasan “daripada zinah” dikeluarkan karena ada kecenderungan yang besar untuk melakukan zinah. Hal itu dapat terjadi karena orientasi pihak-pihak tersebut adalah hal-hal yang berhubungan dengan zinah.

Jadi, daripada zinah…..?

Filed under: My Interest, My Life, My Mind , , , , , , , , ,

Hidup setelah mati, adakah?

Kamis kemarin, adalah perayaan Kenaikan Isa Almasih atau Kenaikan Yesus Kristus, yaitu 40 hari setelah bangkitnya Yesus dari kematian. Ibadah diadakan seperti layaknya hari Minggu, dan kali ini saya tertarik dengan khotbah sang Pendeta yang saya hadiri.

Beliau menyinggung mengenai kehidupan setelah mati, yaitu bahwa setelah meninggal, maka kita akan hidup kembali, tapi bukan dengan tubuh fisik, melainkan dengan tubuh kemuliaan. Setelah mati, kita juga akan masuk ke dalam Firdaus terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam sorga yang sebenarnya, yaitu ketika Yesus datang untuk kedua-kalinya dan membawa semua orang percaya ke sorga, termasuk orang yang sudah mati sebelumnya, ataupun yang masih hidup.

Saya tidak meragukan atau mempertanyakan kebenaran dan keabsahan dari statement ataupun ajaran ini, karena saya tidak dalam kapasitas menjawab, ataupun memiliki pengetahuan yang memadai untuk membantahnya. Yang jadi pertanyaan saya (dan mungkin jutaan orang lainnya) adalah, apakah hidup setelah mati itu ada? Apakah ada sorga?

Ada pernyataan yang bilang : “membuktikan Tuhan itu ada memang susah, namun membuktikan Tuhan itu tidak ada, justru jauh lebih susah.” Saya setuju. Tapi bagaimana dengan pembuktian bahwa sorga itu ada? Apakah sulit membuktikan bahwa sorga itu tidak ada?

Sang Pendeta menjawab pertanyaan saya tanpa saya perlu menanyakan. Ia menyebutkan, bahwa jika tidak ada tujuan setelah hidup, maka silahkan hiduplah sesukanya. Toh mati bukanlah kerugian. Dan buat apa hidup lama di dunia, kalau akhirnya akan hilang begitu saja? Berbuatlah semaunya, tanpa ada aturan, tanpa ada batasan. Toh tidak ada yang melarang dan membatasi.

Tapi lantas kenapa manusia semua hidup dalam aturan? Lantas kenapa manusia menciptakan agama? Untuk apa semuanya? Kenapa tidak dibiarkan saja? Mungkin karena ada sorga dan neraka. Atau ada kehidupan setelah kematian. Maka kita, sebagai manusia, mulai melakukan berbagai tindakan untuk kehidupan kita selanjutnya.

Ada yang percaya kepada sang Juruslamat, karena hanya Dia-lah jalan menuju sorga. Ada yang berbuat baik, supaya amal dan ibadahnya menjadi alat untuk membawa dia ke sorga. Ada yang berbuat baik, agar di kehidupan selanjutnya dapat ber-reinkarnasi menjadi makhluk sempurna. Dan berbagai perbuatan lainnya. Kenapa? Karena kita takut pada neraka? Karena kita mendambakan sorga? Karena KITA PERCAYA ADA KEHIDUPAN SETELAH MATI?

Filed under: My Life, My Mind , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Lily Allen – Fuck You.mp3

Beberapa hari lalu, saya mengunduh sebuah lagu milik Lily Allen, yang berjudul “Fuck You”. Sebenarnya saya tidak merencanakan untuk mengunduh lagu tersebut, namun ketika saya browsing ke www.dilandau.com, dan mengetikkan keyword “lily allen”, maka lagu-lagu yang berada di toplist situs tersebut salah satunya adalah lagu berjudul “Fuck You” tersebut.

It's Not Me, It's You Setelah mengunduh dan mendengarkan beberapa kali sepanjang weekend ini, pagi ini saya merasa tertarik dengan arti dari lirik lagu tersebut. Maksudnya, saya jadi berpikir, kenapa Lily Allen sampai menyanyikan sebuah lagu yang (setidaknya menurut saya), terdengar begitu kasar, tapi sangat menyenangkan.

Googling beberapa saat, dan akhirnya saya berlabuh di sebuah situs bernama www.songmeanings.net, yang sudah beberapa kali saya sambangi ketika hendak mencari arti dari lagu-lagu yang saya dengarkan. Membaca beberapa komentar pertama, saya tidak ‘ngeh’, karena mereka justru membicarakan masalah judul lagu tersebut, yang ternyata baru-baru ini saja diubah menjadi “Fuck You”. Ternyata judul awalnya adalah “Guess Who Batman“, yang sebenarnya tidak disinggung sama sekali dalam lagu tersebut.

Membaca lebih jauh, akhirnya saya menyadari bahwa judul lagu tersebut ternyata memiliki inisial GWB, yang notabene adalah inisial dari mantan Presiden AS, George W. Bush. Dan setelah membaca beberapa komentar di situs tersebut, ditambah dengan membaca lirik lagunya, maka pahamlah saya bahwa lagu tersebut memang betul-betul ditujukan kepada Bush.

Kata-kata yang digunakan memang terasa sangat kasar, namun entah kenapa, juga terasa sangat tepat. Kebencian yang tersirat, justru menjadi pengingat bagi kita untuk perilaku-perilaku Bush selama memerintah. Bush yang anti terhadap pernikahan gay, Bush yang menyerukan perang, Bush yang merupakan penerus ayahnya, dan Bush yang berpikiran sempit. Ditambah dengan musik yang riang dan aksen British Lily Allen, lagu ini benar-benar menghibur! Enjoy!

 

Look inside, look inside your tiny mind
Then look a bit harder
‘Cause we’re so uninspired, so sick and tired
Of all the hatred you harbor

So you say it’s not okay to be gay
Well, I think you’re just evil

You’re just some racist who can’t tie my laces
Your point of view is medieval

Fuck you, fuck you very, very much
‘Cause we hate what you do
And we hate your whole crew

So please don’t stay in touch

Fuck you, fuck you very, very much
‘Cause your words don’t translate
And it’s getting quite late
So please don’t stay in touch

Do you get, do you get a little kick
Out of being small minded?
You want to be like your father
It’s approval you’re after
Well, that’s not how you find it

Do you, do you really enjoy
Living a life that’s so hateful?
‘Cause there’s a hole where your soul should be
You’re losing control a bit
And it’s really distasteful

Fuck you, fuck you very, very much
‘Cause we hate what you do
And we hate your whole crew
So please don’t stay in touch

Fuck you, fuck you very, very much
‘Cause your words don’t translate
And it’s getting quite late
So please don’t stay in touch

Fuck you, fuck you, fuck you
Fuck you, fuck you, fuck you
Fuck you

You say you think we need to go to war
Well, you’re already in one

‘Cause it’s people like you that need to get slew
No one wants your opinion

Fuck you, fuck you very, very much
‘Cause we hate what you do
And we hate your whole crew
So please don’t stay in touch

Fuck you, fuck you very, very much
‘Cause your words don’t translate
And it’s getting quite late
So please don’t stay in touch

Fuck you, fuck you, fuck you
Fuck you, fuck you, fuck you

 

Filed under: My Mind

Calendar

February 2010
M T W T F S S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Flickr Photos

Light through the windows.

Asia Africa Street, Jakarta.

More capitalism.

More Photos